IBX5A6197A7EE8A9

Pengelola Tamasya Semestinya Siapkan Daerah Rehat Sopir

Tamasya – Pengamat transportasi dari Universitas Soegijapranata, Semarang, Dr Djoko Setijowarno memberi masukan supaya daerah liburan menyediakan ruang khusus bagi para pengemudi untuk beristirahat. Karena salah satu unsur terjadinya kecelakaan bis pariwisata yang terus berulang yakni kelelahan si pengemudi.

“Selama ini para sopir umumnya hanya rehat di daerah yang kurang cocok, seperti di bagasi, di dalam bis, atau di lapangan terbuka,” kata Djoko. – Bus Pariwisata Murah

Alhasil, para sopir umumnya kurang cukup rehat dan mengantuk, atau setidaknya gampang lelah ketika kembali patut mengemudi. Komite Nasional Keselamatan Transportas pernah memperkenalkan saran semacam terhadap Kementerian Pariwisata.

Kecuali itu, penyelenggaraan angkutan orang untuk kebutuhan pariwisata patut menerapkan kendaraan beroda empat penumpang lazim dan kendaraan beroda empat bis lazim dengan pertanda khusus. Angkutan orang untuk kebutuhan pariwisata tak diperkenankan menerapkan kendaraan bermotor lazim dalam trayek, selain di tempat yang belum tersedia angkutan khusus untuk pariwisata.

Hal ini cocok pasal 154 UU No. 22/2009 perihal Lalu Lintas Angkutan Jalan, dan pasal 32 dan 33 Permenhub No. 108 Tahun 2017 perihal Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Lazim Bermotor Tidak Supaya Dalam Trayek.

“Pemerintah bisa memberikan hukuman tegas, mulai hukuman ringan melarang beroperasi dalam bentang waktu tertentu sampai mencabut ijin usahanya. Dan ada hukuman pidana juga, biar ada efek kapok,” kata Djoko. Hal yang sama, imbuhnya, juga bisa dikasih pada petugas kir yang meloloskan uji kir yang kemungkinan tak cocok.

Khusus terhadap masyarakat calon pengguna jasa angkutan liburan, dia memberi masukan supaya tak hanya memandang tariff sewa yang merah dan penampilan lahiriah kendaraan yang mulus. “Demi keselamatan, mintalah fotocopy STNK, uji kir, SIM pengemudi dan ijin usaha transportasinya sebelum menetapkan untuk menyewa,” katanya.

masyarakat bisa mencari tahu situasi bis yang akan dipakai dengan gampang, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat patut langsung membikin database Angkutan Pariwisata. Di situ info yang tercantum antara lain nama Perusahaan Otobus, domisili kantor, no telpon yang bisa dihubungi, ragam kendaraan dan plat kendaraan, tanggal terakhir kir, serta identitas pengemudi.